BerbagiSampaiMATI

Icon

Ya Alloh penggenggam jiwaku!!, Kumohon letakkan Dunia di tanganku, dan Jangan Letakkan Dunia di Hatiku

Inilah Email Surat Pembaca Prita Mulyasari yang mengantarkannya ke Tahanan!!


Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

catatan BerbagiSampaiMATI : inilah kemenangan kapitalis

sumber : http://suarapembaca.detik.com/read/2008/08/30/111736/997265/283/rs-omni-dapatkan-pasien-dari-hasil-lab-fiktif

Filed under: 1, bincang bincang, blog, , ,

25 Responses

  1. masdhenk says:

    apakah anda punya keluhan?

  2. mulyoto says:

    saya baca email sdr ibu prita .emm….
    nampaknya rs omni tdk pantas exis di bumi indonesia ini,
    tulisan ibu prita ,kl disimak…..!!! kan isinya demi kepentingan umum agar orang lain tidak mengalami kasus serupa. harusnya pihak RS menanggapi sebagai kritik yg positif. ..! kalau memang itu dianggap sbg pencemaran …!
    KLARIFIKASI DONK,,,,! VIA INTERNET…!!
    bukankah ibu prita menulisnya di internet ….!!! bentul nggak brow……?!!
    jangan mentang2 banyak duit lalu ndatangkan herder-herder untuk nggonggongi ibu pahlawan.
    kalau saya ngometarinya simpel brow….!!!
    kalau aparat yang mendukung arogansi RS OMNI ini berarti dia bukan aparat tapi KEPARAT, kalau ada Pejabat yang mendukung berarti dia PENJILAT, terus kl ada rakyat yang ikut-ikutan mendukung,,, berarti dia Penghianat, kl Dokter yang mendukung berarti dokter biadap, dan yang terakhir kl ada orang masih berobat di sana berarti Orang sesat..!!!

  3. mbyah says:

    waspadalah waspadalah…….!!!! saya jadi takut…jagan2 mlah banyak RS2 yang seperti RS omni ini… saya menghimbau pada masarakat untuk hati2.!! terutama masarakat kecil.! karna yang sering di permainkan. apa lagi msarakat yang tidak mampu..!!! sampe jual kebo untuk biayaya bahkan jual sawah.. walaupun ada jps. masarakat kecil banyak yang tidak tau itu…brow… apa yang namanya jps./askeskin? tetagga saya tu pernah karna memang tdk mampu ya pakai jps tapi ujungujungnya di rs di suruh nebus obat. Rp250 rb ya terpaksa kambing lik man satu2nya ya di jual..saya bangga hidup di indonesia.!!tapi kadang saya malu jadi orang indonesia brow..? mau jadi apa negri ini? terlalu banyak oknum oknum yg tidak bertanggung jwab..!!!! dr segi apapun tidak ada yang pasti..? hukum jg tidak pasti uud jga di abaikan..!! sebenarnya mau di apakan negri kita ini brow…. brow..?

  4. Andriy says:

    Menyatakan keluhan untuk dijadikan masukan bwt pelayanan dan kinerja RS harusnya. kenapa malah memperkarakan korban yg bikin keluhan. udah jadi korban, di penjara lagi.

  5. aria says:

    lha peristiwanya kan udah lama banget… kok baru diperkarakan sekarang ? rumahsakitnya dah kehabisan pasien karena pada ga percaya lagi, lalu mereka cari dana dengan memperkarakan bekas korban mereka ? kenapa bukan paramedis-paramedis yang tersangkut saja yang dijadikan korban berikutnya, ya ? kita buktikan saja kesangsian kita akan keprofesionalan badan hukum kita dalam menyelesaikan perkara ini.

  6. me says:

    saya dukung Ibu Prita….
    gimana coba kalo RS seperti itu membahyakan jiwa manusia…GAK MIKIR TUH!!!!
    mungkin dari semua kasus ini,cm Ibu Prita yang berani mengungkapkan detailnya…TWO THUMBS UP for Mrs.Prita deh…
    Intinya,jangan tertipu dengan keberadaan RS dengan status besar juga…mending kalo punya dokter langganan,kesitu aja…okay…

  7. real says:

    Salut buat Ibu Prita yg berani mengungkapkan kebobrokan RS skrg ini. TWO THUMBS UP!!!! Emang deh, jgn tertipu sm embel2 INTERNASIONAL.. krn dgn embel2 itu makanya mrk butuh duit banyak, jd berusaha sekuat tenaga puter otak biar duit2 mengalir ke kas mrk tanpa pduli nyawa org lain.. (hebat ya dokter2 di indonesia skrg..bs mainin nyawa org euy..!)
    Ga heran sih paramedis skrg bnr2 komersil, secara mrk msk fakultas kedokteran aja udh dikomersilin..asal punya duit segambreng jg bs tuh msk kedokteran. Perkara niat ga niat, pinter ga pinter, yg penting titel DOKTER trs bs balik modal deh..
    Buat Ibu Prita, jgn menyerah bu..jgn biarkan org2 ga bertanggung jawab itu tertawa bahagia diatas penderitaan yg tlah Ibu alami&org2 lain yg mengalami kasus yg sm spt Ibu..

  8. Edy Gunawan says:

    Coba di publish daftar dokternya lulusan mana…? Pernah juga kejadian menimpa anak gw yg baru 11 hr di RS. MK, salah diagnosa.

  9. diah says:

    sebenernya kalo dibaca email dari Bu Prita tersebut, secara umum tidak ada tujuan untuk menjelek2kan atau merusak nama baik. Apa yang beliau tulis adalah opini beliau sebagai pasien dan itu juga setelah melalui perjuangan panjang untuk mendapatkan informasi dan kejelasan dari pihak rumah sakit. Kalo memang pengadilan negeri tangerang merasa sebagai institusi penegak keadilan harusnya dilihat lagi secara lebih detail dan lebih fair bukan karena bonus dibalik itu semuanya.
    Apakah pihak rumah sakit juga sudah menjalankan fungsi dan kewajiban-nya secara benar sesuai dengan hak dari pasien yang nota bene membayar untuk mendapatkan pelayanan. Karena kalo saya lihat dari beberapa data memang pasien berhak untuk tau ttg catatan kondisi kesehatannya dan termasuk copy-nya tanpa disembunyikan. Sekarang mari kita lihat bersama siapa yang sebenernya harus dikenakan UU pencemaran nama baik apakah ibu Prita sebagai konsumen atau pihak rumah sakit sebagai penyedia jasa….:-( bersikap profesional itulah kuncinya untuk mendapat sertifikasi internasional bukan tindakan negatif yang mengecewakan😦

  10. @all : tanpa disadari, pihak rumah sakit OMNI sudah membuat kuburannya sendiri.
    Padahal, bilamana keluhan pelanggan ditanggapi denagn baik, maka justru itu adalah marketer gratis terdepan yang bisa diandalkan untuk menarik pelanggan.
    sepertinya tim PR dan HUMas rumah sakit ini perlu belajar lagi dan sekolah lagi, atau harusnya dipecat!!

  11. yogi says:

    setuju,bro n sis. saya dari jogja. di jogja juga pernah ada kasus seperti ini,pokoknya antara pasien dan RS. Tapi penyelesaiannya cukup baik,menurut saya. Pihak RS ya minta maaf kalo ada stafnya yang kurang baik kinerjanya,juga disebutkan alasan dan urut2an penanganannya.Biasanya pasien juga mau berbesar hati memaafkan.Menurut saya,dokter2 dalam kasus ini masih berpola pikir mandeg.Mereka gak mikir pasien2 jaman sekarang tambah pinter,tau hak2nya.Dokter2 masih sok merasa berkuasa atas hidup mati pasiennya,gak mau berbagi info dengan asumsi toh si pasien juga ga ngerti kalo dijelaskan.Playing God,istilahnya.Padahal hidup matinya sendiri ga bisa dia kontrol.Ga heran kan,orang2 Indonesia lebih suka ke Singapura?Yang mampu lho.

  12. muhammad aryadi andika says:

    yah seprti lah karakter manusia,banyak ragamnya.. ada org yg jika dikasih tau “mas/mbak pipinya cemong tuh” tuh org malah marah2/ngamuk2 gak jelas.. tapi ada juga yg klo dikasih tau “mas/mbak pipinya cemong tuh, trus dia blg yag mana, oh makasih ya” pd akhirnya semua akan kembali keorang tersebut,, khlifah umar bin khatab paling senang dikritik

  13. Bacheng says:

    Mslah yg dihadapi Ibu prita hanya sebgian kecil aja dr puncak gunung es.Msh bnyk lg kejadian yg sama dan dimana2.Mmg dokter2 dinegara kita uda bnyk yg gak pakai otak.Buktinya mereka (dokternya) n keluarganya kok sakit bnyk yg berobt ke LN.Karna mreka tau dokter2 kita sprt mrka jg gak punya otak.Nyawa kok dibuat mainan

  14. didi says:

    Untuk ibu Prita, sabar aja ya bu..tuhan itu maha adil dan maha tau siapa yang benar dan siapa yang salah. Cepat atau lambat mereka2 itu pasti akan mendapat laknat dan balasan dari tuhan yang paling dasyat. kalau di dunia ini hukum tidak adil, tapi percaya deh hukum tuhan yang m aha adil.

  15. cecep sh says:

    Aduh mbak Prita kasian sebagai rakyat kecil dikenakan pasal karet tuh. Berdoa saja ya saya sebagai Advokat dan Jurnalis SANGAT KEBERATAN dengan ulah oknum jaksa yang seenak dewe mau kerangkeng orang. Buka KUHP secara benar…. Buka UU Pers kalau mau pakai UU Pers. Yang dikemukan Mbak Prita adalah demi kepentingan umum, bukan pencemaran nama baik… emang kalau mencoba (saya menduga) mau nipu apa emang RS itu punya nama baik???????
    Pak Jaksa….. Pak Hakim…….. Adili mbak Prita dengan adil…. ingat hukum karma akan mendatangi anda jika tidak bertindak adil….. Saya berdoa untuk keadilan dan mengutuk mereka yang mencoba mempermainkan hukum

  16. Lalu Sunatan says:

    Dengan irama lagu ini
    Indonesia merdeka…. (katanya)
    menuju bahagia …. (katanya)
    itulah hak milik kita ….(hm..hm…hm..)
    Indonesia merdeka …. (katanya)

    kemudia siamk puisiku
    Yang merdeka… mereka yang jadi penguasa, penguasa dan berpunya
    Yang bahagia… mereka yang bisa memperbudak hukum dan kekuasaan serta menyelewengkan arti demokrasi
    Mana hak milik kita???? Semuanya dirampas….
    Indonesia merdeka masih dalam nyanyian dan slogan…..

    Maaf…… ini bukan menghina, emang Indonesia sudah merdeka, tetapi para pemegang kemerdekaan telah menghianati para pejuang kita…

  17. anang says:

    Buat ibu prita anda dijalan yang benar jangan takut mengungkapkan apa yang dialami. justru itu membuat banyak orang tahu kinerja Rumah Sakit sehingga banyak masyarakat luas yang terbantu dari informasi ibu prita dan memilih untuk berobat ditempat yang dipercaya… informasi yang seperti ini yang diinginkan masyarakat indonesia.

  18. Ziadi Nor says:

    Salut buat bu Prita. Doa kami selalu menyertai.

  19. Rinto says:

    Dasar oknum2 paramedis keparat…!
    Jadi emosi gw…

    Saya turt prihatin utk ibu Prita, saya jg pernh mendapat perlakuan yg tidak semestinya ketika
    memanfaatkan fasilitas ASKES. Semenjak itu saya tidak prnh menggunakan fasilitas ASKES itu lg.
    Jera saya.

  20. ale says:

    begitu parahkah hukum dinegeri kita yang tercinta ini, y katanya supremasi hukum dijunjung tinggi tp seorang ibu yg hanya ingin menceritakan pahitnya jalan hidup yang dialami, Seorang ibu yg dijadikan korban untuk kepentingan sekelompok kapitalis, yang menjadikannya media percobaan, yang menjadikannya bahan untuk mengeruk keuntungan, sang ibu hanya memberikan peringatan kepada kita semua untuk berhati2, niat yg sangat tulus dan tampa ada niat untuk menzalimi orang lain, seorang ibu yg hanya ingin memperingatkan kepada orang yg menzaliminya untuk tidak mengulangi perbuatnya lagi,seorang ibu yg menyampaikan kepada org yang mempunyai tugas sgt mulia untuk tdk menyinyiakan amanah yg tlah diberikan kepadanya … malah diperlakukan dengan tidakmanusiawi, diancam sanksi yang sgt berat, mana hati nuranimu wahai oknum penegak Hukum !!!, engkau telah menghianati teman2 seprofesimu yg berusaha menegakkan supremasi hukum… dan engkau yg berjas putih yang telah mengucapkan sumpah untuk mngutamkan keselmatan manusia, mengapa engkau menjadi penghianat hanya karena materi …. tidakkah kalian takut akan azab Allah SWT yang sangat pedih akan menimpa kalian …. bertobatlah.. mudah2an ibu yang hebat ini memaafkan kalian sehingga Allah SWTmemberikan ampunannya.

  21. Ono Gosip says:

    HASIL DENGAR PENDAPAT KOMISI IX DPR DGN MANAGEMENT RS OMNI:
    1. KOMISI SEMBILAN TIDAK PUAS DENGAN JAWABAN DARI PIHAK RS OMNI
    2. MENGUSULKAN PENCABUTAN IZIN OPERASIONAL RS OMNI
    3. MENCABUT TUNTUTAN RS OMNI KEPADA PRITA MULYASARI
    4. RS OMNI HARUS MINTA MAAF SECARA TERBUKA KEPADA PRITA MULYASARI

  22. nitafath says:

    Yaa Alloh, terima kasih aku berkesempatan membaca surat tersebut, sehingga aku tidak salah memberi penilaian, berdasar info yang sering di putar balik jauh dari keebenaran.

    Semoga mendapat keadilan di bumi Indonesia ini bu.
    Ironis, nafsu kapitalis menguasai hati nurani manusia.

  23. supriyanto says:

    Emangnya rakyat kecil ngak berani komentar?….. Teruskan perjuangan mencari keadilan bu prita doa kami menyertaimu.

  24. ryha says:

    Semangat Terus Bu Prita rakyat Indonesia setia mendukungmu, Dari sini ada yang menarik dan janggal. RS identik dengan dokter, sedangkan dokter identik dengan IDI, Namun selama ini kok tidak terdengar suaranya yach … Ato gak ada hubungannya dengan kasus Ibu Prita ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RSS Unknown Feed

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
Info Beasiswa
Nama Nama bayi Islami Contoh RPP berkarakter
Oil and Gas vacancy Information

Info Lowongan Migas

Who’s online now?

website stats